Mengapa Implementasi ESG Sering Gagal Memberikan Dampak Nyata?

Banyak perusahaan telah mengadopsi ESG, namun belum mampu menghasilkan dampak yang terukur. Artikel ini membahas gap antara strategi dan implementasi serta bagaimana menjembataninya.
WhatsApp
Facebook
X
LinkedIn
Threads
Email
Telegram
17 May 2026
ESG

T.CARE Team

Kami siap membantu dalam membangun strategi ESG yang lebih terarah, terukur, dan berdampak.

Membangun ESG dari Kepatuhan Menuju Penciptaan Nilai Berkelanjutan di Indonesia

“ESG bukan lagi tentang seberapa banyak laporan keberlanjutan yang diterbitkan, tetapi tentang seberapa besar perubahan yang dapat dibuktikan kepada masyarakat, investor, regulator, dan generasi mendatang.”


𝗘𝗦𝗚: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗿𝗲𝗻 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗴𝗲𝗻𝗱𝗮 𝗦𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶𝘀 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮

Dalam beberapa tahun terakhir, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah mengalami transformasi yang sangat signifikan. ESG tidak lagi dipandang sebagai sekadar inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan telah menjadi bahasa universal dalam tata kelola bisnis modern. Investor institusi, lembaga pembiayaan multilateral, regulator, hingga konsumen kini menggunakan indikator ESG untuk menilai kualitas pengelolaan risiko, daya saing, serta keberlanjutan sebuah perusahaan. Bahkan, Global Sustainable Investment Alliance (GSIA) mencatat bahwa aset investasi berkelanjutan dunia telah mencapai lebih dari USD 30 triliun, menunjukkan bahwa keputusan investasi global semakin dipengaruhi oleh kinerja ESG.

Perubahan tersebut juga tercermin dalam praktik pelaporan perusahaan. KPMG Survey of Sustainability Reporting 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 96% perusahaan terbesar dunia (G250) telah menerbitkan laporan keberlanjutan, sementara hampir seluruh perusahaan besar di berbagai negara telah memasukkan isu ESG ke dalam strategi korporasi. Di Indonesia, arah kebijakan bergerak pada jalur yang sama. POJK Nomor 51/POJK.03/2017 mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan melalui Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dan Laporan Keberlanjutan. Kebijakan tersebut diperkuat dengan hadirnya Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) sebagai acuan investasi hijau serta komitmen pemerintah untuk mencapai Net Zero Emissions 2060, yang diintegrasikan ke dalam RPJMN 2025–2029 dan mendukung agenda Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, di balik meningkatnya jumlah laporan keberlanjutan, terdapat paradoks yang tidak dapat diabaikan. Semakin banyak perusahaan melaporkan ESG, tetapi semakin sedikit yang mampu membuktikan dampaknya secara nyata. Inilah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh dunia usaha Indonesia saat ini.

 

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗜𝗺𝗽𝗹𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗘𝗦𝗚 𝗦𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗚𝗮𝗴𝗮𝗹?

Hasil berbagai studi internasional menunjukkan bahwa persoalan utama implementasi ESG bukan lagi terletak pada kurangnya komitmen, melainkan pada lemahnya kemampuan organisasi mengubah komitmen tersebut menjadi dampak yang dapat diukur. PwC Global CSRD Survey 2024 mengungkapkan bahwa meskipun 63% perusahaan menyatakan siap memenuhi kewajiban pelaporan ESG, hanya sekitar 20% yang benar-benar memiliki data ESG yang tervalidasi. Hambatan terbesar berasal dari kualitas data (59%), kompleksitas rantai pasok (57%), dan keterbatasan kapasitas SDM (50%). Selain itu, hanya 10% organisasi yang telah mengintegrasikan data ESG ke dalam sistem Enterprise Resource Planning (ERP), sementara hanya 6% yang mampu memanfaatkan analitik ESG untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.

Data tersebut menunjukkan bahwa banyak organisasi masih memahami ESG sebagai kewajiban pelaporan, bukan sebagai sistem manajemen. ESG sering ditempatkan di unit keberlanjutan atau CSR tanpa keterkaitan yang kuat dengan strategi bisnis, manajemen risiko, investasi, maupun pengembangan sumber daya manusia. Akibatnya, berbagai program keberlanjutan berjalan secara parsial dan sulit menunjukkan kontribusinya terhadap peningkatan nilai perusahaan.

𝗣𝗼𝘁𝗿𝗲𝘁 𝗜𝗺𝗽𝗹𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗘𝗦𝗚 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮

Indonesia sesungguhnya telah memiliki fondasi regulasi yang cukup kuat. Selain POJK 51/2017 dan TKBI, perusahaan juga didorong melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Program ini tidak hanya mengevaluasi kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, tetapi juga menilai inovasi sosial, efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola lingkungan. Di sisi lain, Peraturan Menteri BUMN mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) mengarahkan perusahaan milik negara agar menciptakan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Meskipun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan yang serupa dengan kondisi global. Banyak perusahaan telah mengalokasikan anggaran yang besar untuk CSR, TJSL, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, maupun dekarbonisasi, tetapi pelaporannya masih didominasi oleh indikator output misalnya jumlah pelatihan, jumlah pohon yang ditanam, jumlah UMKM binaan, atau besarnya dana yang disalurkan. Sangat sedikit organisasi yang mampu menunjukkan outcome dan impact, seperti peningkatan pendapatan masyarakat, penurunan emisi karbon yang terverifikasi, peningkatan kualitas lingkungan, atau nilai ekonomi yang dihasilkan dari investasi sosial tersebut. Akibatnya, keberhasilan program lebih sering diukur dari banyaknya aktivitas daripada perubahan yang benar-benar terjadi.

𝗘𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗜𝗺𝗽𝗹𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗘𝗦𝗚

Dari berbagai kajian dan pengalaman implementasi, terdapat empat akar masalah yang paling sering menyebabkan ESG gagal memberikan dampak nyata.

  1. Pertama, ESG masih diposisikan sebagai instrumen kepatuhan, bukan sebagai strategi bisnis. Fokus organisasi masih tertuju pada pemenuhan kewajiban regulasi dan penyusunan laporan tahunan.
  2. Kedua, tata kelola data ESG masih lemah. Banyak perusahaan belum memiliki single source of truth, sehingga data tersebar di berbagai unit dan sulit digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
  3. Ketiga, kapasitas SDM dan kepemimpinan belum berkembang secepat tuntutan implementasi ESG. Kompetensi dalam pengukuran dampak, pengelolaan data, serta integrasi ESG ke dalam proses bisnis masih terbatas.
  4. Keempat, sebagian besar organisasi belum memiliki metodologi yang mampu mengukur manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi secara kuantitatif. Akibatnya, investasi ESG sulit diterjemahkan menjadi nilai yang dapat dipahami oleh direksi, investor, maupun regulator.

 

𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗘𝗦𝗚 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝘀𝗶𝘀 𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸

Untuk menjawab tantangan tersebut, implementasi ESG harus bergeser dari pendekatan activity-based menuju impact based management. Perusahaan perlu membangun Theory of Change (ToC), menetapkan indikator output – outcome – impact, memperkuat tata kelola data, serta menerapkan metodologi seperti Social Return on Investment (SROI) agar manfaat sosial dan lingkungan dapat diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi yang terukur. Dengan pendekatan tersebut, ESG tidak lagi berhenti pada aktivitas dan pelaporan, tetapi menjadi sistem yang mampu menghubungkan strategi perusahaan dengan hasil nyata yang dirasakan oleh masyarakat, lingkungan, dan pemegang saham.

Pendekatan ini juga akan memperkuat implementasi PROPER, TJSL, pencapaian SDGs, serta target Net Zero Emissions 2060. Lebih dari itu, perusahaan yang mampu mengintegrasikan strategi, kepemimpinan, teknologi digital, tata kelola data, dan pengukuran dampak akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada kepatuhan administratif.

𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗮𝘁𝗲𝗱 𝗘𝗦𝗚 𝗜𝗺𝗽𝗮𝗰𝘁 𝗙𝗿𝗮𝗺𝗲𝘄𝗼𝗿𝗸

Saya mengusulkan sebuah kerangka implementasi yang dapat menjadi panduan bagi organisasi dalam membangun ESG yang berbasis dampak:

Strategic Vision → ESG Governance → Stakeholder Engagement → Materiality Assessment → Theory of Change → Program Design → Output → Outcome → Impact Measurement → Social Return on Investment (SROI) → Shared Value → Sustainable Business Growth.

Kerangka ini menegaskan bahwa ESG bukanlah tujuan akhir, melainkan proses penciptaan nilai yang harus mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara investasi perusahaan dengan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan.


𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Ke depan, ukuran keberhasilan ESG tidak lagi ditentukan oleh tebalnya laporan keberlanjutan atau besarnya anggaran yang dialokasikan, melainkan oleh kemampuan perusahaan membuktikan perubahan nyata yang dihasilkan melalui data, bukti, dan dampak yang dapat diverifikasi. Di tengah meningkatnya ekspektasi investor, regulator, dan masyarakat, perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang mampu menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi bisnis, budaya organisasi, dan sistem penciptaan nilai jangka panjang.

Bagi Indonesia, transformasi tersebut bukan hanya penting untuk memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, meningkatkan daya saing nasional, serta memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.


𝗣𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀
𝗡𝗮𝘄𝗶𝗿 𝗦𝗶𝗸𝗸𝗶, 𝗦.𝗣𝗱., 𝗠.𝗧𝗿.𝗔.𝗣., 𝗠.𝗦𝗶. (𝗖𝗮𝗻𝗱.)
CEO PT Tunasmuda Care Indonesia
Ketua Badan Pengurus AFILIASI ESG Indonesia
Praktisi ESG, Social Impact Measurement & Social Return on Investment (SROI)